Senin, 27 April 2015

KEPADA SIAPA HARUS BERTANYA ?

Mencontek bukan lagi rahasia umum, banyak hal dan usaha yang dilakukan untuk mendapat nilai sempurna tak peduli bagaimana caranya,  Indonesia juga punya cerita tentan mencontek, masih ingat kasus mencontek massal yang terjadi tahun 2011 ? kasus ini  terjadi pada salah satu sekolah dasar di Surabaya tentu saja banyak pihak harus kembali melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap system pendidikan kita.

Memang benar ujian itu susah adanya, sulit memang..mungkin ini menjadi salah satu alasan banyak siswa merasa tidak suka ujian lihat saja raut muka dan suara yang keluar dari ruang kelas saat kata UJIAN itu mulai terdengar…dari dampak negative yang akan terjadi saat dilakukan nya ujian seperti mencontek, beban mental dan psiklogis siswa, jadi beberapa sekolah akan melaksanakan ujian secara open book agar siswa tidak perlu mencontek mereka dapat membaca buku mencari catatan sesuka hati tanpa harus sembunyi-sembunyi..melegakan memang jika ujian seperti ini yang diterapkan

Tapi ternyata masalah tak berhenti disini, saat system ini dilaksanakan masih saja ada siswa yang merasa berat menjawab soal padahal ujian ini dilakukan dengan open book, masih saja berisik tanya kanan-kiri, masih saja banyak tingkah menganggu teman yang lain hanya sekedar untuk meminjam jawaban.. kali ini apa masalah yang sebenarnya ? hal ini karena saat ujian open book sebenarnya siswa-siswa ini harus membaca lebih banyak materi, lebih jeli dalam menganalisis setiap pertemuan, membuat catatan-catatan penting yang sekiranya akan  keluar dalam ujian. Hal ini masih saja menyusahkan bagi anak-anak bangsa ini ?

Lalu apakah ini adalah sebuah kebudayaan ?

Kebudayaan yang mulai menjalar dalam pendidikan, bahwa ternyata masih ada anak-anak bangsa yang enggan untuk susah, tidak mau sulit, mereka berharap jawaban-jawaban benar dapat langsung muncul tanpa harus dicari, tanpa harus membaca. tentu saja masih ada harapan selagi masih ada si jenius si pintar yang dapat diharapkan dapat memberi contekan, hati terasa begitu lega, tapi bagaimana jika orang-orang yang katanya pintar dan jenius itu tak mau berbagi jawaban ? maka seribu hujatan dan cap ketidaksetiakawanan akan melekat pada orang-orang yang berlatih jujur ini.

Namun yang lebih berbahaya adalah saat hal ini mulai melekat dalam diri kita, tanpa usaha, jerih payah, dan rasa susah kita selalu berharap kebaikan itu akan datang pada kita dan saat hal baik itu tidak kunjung hadir dalam hidup kita pada siapa kita akan mengutuk ?

Minggu, 05 April 2015

TANPA JUDUL



Hari ini mulai kembali aktifitas seperti biasa berangkat pagi mengajar-belajar bermain kembali bersama mereka…anak-anak peserta didik. entah bagaimana sebenarnya kami menyebutnya
Anak didik, peserta didik, murid, teman-teman atau sebutan apa yang pas untuk menunjukan kedudukan anak-anak ini..
Bertegur sapa riang gembira bertemu dan memangil nama setiap guru atau pendidiknya, adajuga yang belum sampai gerbang sekolah sudah menangis bahkan bagi anak baru ada yang sampai meronta..kami sudah tidak kaget lagi karena bahkan gigitan, cakaran, tendangan2 –nya anak anak ini akan mudah bersarang diantara pendidik. setelah kutuliskan ini baru kusadari ternyata dalam tubuh kecil itu terdapat kekuatan yang kadang tak mampu kami menghalaunya..
Mereka anak-anak kuat.
Dan sudah pasti kami pendidik, guru, pengasuh atau sebutan apa yang pas yang dapat mengambarkan pekerjaan yang setiap hari kami  lakukan..berangkat pagi, piket, menyambut anak, tertawa, bertegur sapa, tampil selalu riang gembira, menyiapkan kelas, melakukan penilaian , membuat setumpuk adminitrasi sekolah dan memperhatikan setiap detail pertumbuhan mereka, anak didik kami.
Melihat perkembangannya, ada yang mudah sekali menangis bahkan hanya mendengar teman lain mengusik hati nya dengan beberapa pertanyaan menggoda, ada juga yang asyik memenuhi rasa ingin taunya bertanya ini-itu tangan dan mata nya tak pernah berhenti memperhatikan banyak hal.belum mengerti aturan main. Ada yang bahkan selama disekolah untuk sekedar membuka mulutnya saja enggan.diam. tidak menangis hanya saja dia enggan berbicara lebih senang menyimak melihat banyak temannya melakukan berbagai macam kegiatan. Adapula yang bahkan untuk mengungkapkan maksud dan keinginannya ia harus bersusah payah mengeluarkan berbagai action lucunya bermaksud memberitahu keinginannya tak jarang tangan kecilnya menarik jari ku mencoba memberitahu hal yang ingin disampaikan dengan menarikku ketempat yang ia tuju. Masih banyak…ada yang enggan berbicara, ada yang suka cerita ada yang mudah terluka tapi ada yang ternyata mampu bersikap dewasa dengan tubuh sekecil itu.
Begitulah pola pikir anak-anak itu..dan terkadang tanpa disadari mereka mampu menemukan jalan penyelesaian atas segala permasalahnya. Mungkin mereka sesekali akan menangis meraung..memukul  teman sendiri, mencubit, berkata keras, mengadu satu sama lain. Mudah sekali untuk marah dan terluka tapi aku selalu takzim dengan hal ini karena hal yang sama juga terjadi. mereka juga mudah sekali lupa untuk sejenak lalu menangis untuk membenci, terluka, sakit hati tapi lihat belum ada sepuluh menit berlalu mereka bahkan telah lupa kemarahan dan kesakitannya, kembali tertawa dan bermain. Begitu seterusnya dunia anak-anak ini.
Melihat bagaimana mereka mnyelesaikan masalah nya sendiri , dari sakit dan terluka, mereka akan menangis untuk bilang ia sakit. Tidak berbohong. Karena sebentar saja sakitnya hilang dan ia menjadi ringan melupakan rasa sakitnya tidak ada yang perlu ditutupi- tutupi  jika marah cukup berteriak lalu selelasi, jika sakit cukup menangis lalu melepaskan.
Kita cukup menjadi bagian dari mereka. Menempati posisi kita sebagai teman, pendidik, orang tua, pengasuh dan menjadi guru.
Selamat menjadi guru hebat !