Senin, 09 Mei 2016

25



Usia 25
Banyak yang bilang usia 25 itu usia matang, di tahun 2016 ini khususnya anak-anak angkatan 91,92 mulai mengakhiri masa lajangnya …
Hm…kata orang usia 25 itu usia yang dapat mencerminkan kepribadian, semua akhaq telah terbentuk di usia ini.
Menjadi dewasa dan matang menatap masa depan… berikut list yang menggalaukan di usia 25 :
1.    Lulus kuliah
Banyak yang bilang jadi mahasiswa itu menyenangkan, memang …tapi jika anda adalah mahasiswa dengan rentan usia 24-25 pasti berat menjadi mahasiswa apalagi tingkat akhir maka saya pastikan , para junior di kampus, tetangga dan saudara akan bertanya “kapan lulus ?”
2.    Bekerja
Setelah lulus maka hal pertama yang di lakukan adalah menentukan hal lain yang harus di lakukan, misal langsung lanjut s2 atau mungkin plang kampung bagi mahasiswa perantau, bagi mahasiswa parttime yang sudah nyambi  bekerja pastilah tenang namun kegalauan selanjutkan akan muncul saat mulai ingin mencari pekerjaan yang lain yang sesuai dengan passion atau hobi.
3.    Menikah
Usia 25 di berbagai Negara memiliki image berbeda, di korea misaal usia 25 adalah usia produktif dimana banyak anak muda benar benar melakukan hal yang ingin di capainya, namun di Indonesia usia 25 minimal sudah merencanakan pernikahan lah .. memang jodoh rahasia Allah namun  kita yang memilih dan Allah yang menentukan..
 
3 hal ini yang menggalaukan bagi mereka usia 25, bersyukurlah yang setidaknya sudah nyaman karena telah memiliki 3 hal tersebut…semoga Allah menyegerakan yang belum…aamiin

Minggu, 08 Mei 2016

Susahnya jadi guru muda…



Yang namanya guru itu identik dengan image berwibawa, tegas, perfeksionis, bijaksana, dkkkkk yang mencerminkan sifat sempurnah lah…
Memang, yang namanya guru itu di tuntut bisa jadi contoh dan teladan bagi murid nya…se-tidak sempurna apapun keadaannya di balik gelar yang di sandang…
Saya setuju, banget malah…
Tapi memang image ini susah di bangun untuk guru muda seangkatan saya missal, masih berkepala 2 ..dan menghadapi dunia anak-anak remaja..silahkan Tanya pada siapapun anak muda bagaimana mereka menghargai guru yang di bilang “muda” . di lihat   dari gesture fisik saja,,,murid nya lebih gede dari guru nya J
Pantaslah kalau mereka (anak didik) cinderung melihat kami (guru muda) sebagai teman bukan panutan.
Ini baru soal murid,
Di tambah dengan pandangan wali …
Pernah saya mengikuti sebuah pelatihan, iseng tapi memang tertarik dengan kegiatan kerelawanan gitu…e,,yang jadi pemateri dan instruktur ternyata adalah wali murid…subhanallah..Canggung
Saat semua teman teman seangkatan yang jadi relawan mengakhiri kegiatan dan pamit pulang, tak sedikit yang cium tangan (soalnya pemateri=instruktur udah kaya ibu sendiri) nah lo aku…masak cium tangan ke wali murid L.O.L jadi serba salah…
Apapun itu….guru muda memang harus lebih berjuang, namanya juga muda…

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN



Guru ….

Sebuah sebutan yang amat sangat menyimpan sejuta penghormatan.
Guru dalam kamus bahasa Indonesia di artikan sebagai  orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Di Indonesia guru adalah pekerjaan …
Sedangkan dalam bahasa Arab guru dikenal dengan kata al-mu’alim atau al-ustadz yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis taklim, ustadz  adalah istilah yang sangat sering dipakai di Indonesia untuk panggilan kalangan orang yang dianggap pintar dan ahli di bidang ilmu agama.
Apapun sebutannya dapat di simpulkan bahwa guru dan uztadz merupan orang yang pintar dan mampu memberikan atau sebagai fasilisator dalam menyampaiakan pengetahuan …
Tapi makna di balik sebutan tersebut adalah yang paling penting,,
Kebanyakan dari kita berfikir bahwa memintarkan anak anak adalah tugas dan kewajiban guru. Banyak orang tua menuntut anak nya harus rajin belajar, dapat nilai tinggi, di terima di universitas maupun sekolah yang mentereng. Dan semua itu adalah tugas guru
Tidak salah memang harapan setiap orang tua mengenai masa depan , dan pencapaian anak..namun satu hal yang pasti bahwa pendidikan anak tidak mutlak 100% tanggungjawab guru, orang tua harus memahami bahwa guru merupakan “pembantu”  bagi sukses nya pendidikan anak baik secara kognitik maupun social emosional karena pendidikan sesungguhnya merupakan pendidikan keluarga, di mana orang tua, terutama ibu merupakan madrasah pertama bagi setiap anak.
Tidak ada sekolah bagi orang tua. memang… jadi siapkan, matangkan untuk setiap langkah pendidikan anak, dan guru siap menjadi “pembantu”  penyukses pendidikan bagi anak-anak anda…


psikologi



Memaknai IQ

            Ketika seorang anak dapat memecahkan soal matematika dalam waktu yang singkat, kita menyebutnya sebagai anak yang cerdas Conny Semiawan mengikhtisarkan berbagai pengertian dan devinisi tentang kecerdasan (inteligence) dari para ahli tersebut kedalam 3 kriteria yakni :
1.    Judgment (penilaian)
2.    Conprehension (pengertian)
3.    Reasoning  (penalaran)
            Kemudian dikritisi lebih lanjut oleh A. Anastasi yang menggapnya membatasi ekspresi individu. Sejumlah ahli psikologi pendidikan lain seperti, Charles Spearman, Thurstone, Guilford dan Gardner, ahirnya berhasil mengembangankan konsep kecerdasan baru yang dikenal dengan Multiplay Intelligence.
Multiplay Intelligence, yakni teori faktor jamak dimana kecerdasan manusia dianggap memiliki tujuh dimensi yang semi otonom masing-masing adalah :
a.    Linguistik
b.    Estetis-musik
c.    Matematis-logis
d.    Visual-spasial
e.    Kinestetik fisik
f.     Sosial-interpersonal
g.    Intra personal
           Disebut dimensi yang semi otonom karena orang yang cerdas dalam satu dimensi.
           Multiple Intellegince ini relatif baru  didunia pendidikan Amerika Serikat , sesungguhnya terdapat kelemahan bahkan kesalahan secara Intrinsik didalamnya. Pertama multiple intelligence tidak menunjukan hirarkhi intellegensiitu sendiri. Jika hal seperti ini dipertahankan maka anak didik akan kehilangan “ pusat kediriannya sendiri” dan tersubordinasi kedalam bagian-bagian kediriannya. Kedua, jika diteksi dini diimplementasikan secara dini hal itu mungkin bisa mengembangakan bakatnya pada suatu bidang tetapi juga bisa memasung potensinya yang lain.
           Untuk mengetahui taraf kecerdasan para ahli psikologi pendidikan telah menyusun  standart test intellegence yang kemudian terkenal dengan intellegence quotient (taraf kecerdasan) yang lazim disingkat  IQ. Intinya jika seorang anak mampu mengerjakan soal yang juga mampu dikerjakan anak sebaya atau setingkat, maka dapat dikatakan IQ nya normal, dalam test Intellegence dinyatakan dengan IQ nya 100. Rumus umum yang biasa dipakai adalah
           
            IQ merupakan kadar kemampuan seseorang atau anak dalam menyerap hal-hal yang sifatnya fenomenal, fatwal, data, dan hitungan, itu semua tercermin dalam alam semesta. IQ adalah cermin kemampuan seseorang dalam memahami dunia luar. Mestinya makin tinggi IQ seseorang akan semakin dekatlah ia pada Allah S.W.T. tetapi sayangnya tidak demikian, banyak orang yang IQ nya tinggi tetapi tidak mengenal Tuhannya.
            Disinilah tugas kita sebagai orangtua harus mengubah pandangan yang menyesatkan tersebut, caranya adalah dengan mengenalkan kembali hal-hal yang kita pahami itu, sesungguhnya merupakan ciptaan yang diciptakan Allah bagi kita agar bersyukur.
            Begitulah semestinya sains yang dikembangkan untuk anak-anak kita tidak hanya cerdas dalam memahami dan memanfaatkan sesuatu, tetapi juga memahami bahwa sesuatu itu memiliki status Ontologisnya, yakni diharibaan Allah S.W.T. dengan demikian ketika anak-anak berkembang IQ nya maka dengan sendirinya juga berkembang keimanan dan ketakwaannya.
            Banyak sekali ayat Al-Quran yang menyeru atau memerintahkan manusia untuk memerhatikan alam semesta. Bahkan dengan memperhatikan setetes airpun kita akan merasakan ketekjubpan luar biasa. Jika kita mengikuti dan melaksanakan seruan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, dengan sendirinya IQ kita akan cepat meningkat, karna dalam memperhatikan alam semesta akan teerjadi proses dan akselerasi berfikir, menginggat dan jugga perluasan wawasan. Proses itu terjadi karna dalam semesta teerdpat hukum-hukum yang tetap yang dapat dipelajari, dinalar, dan ahirnya diambil hikmah dan manfaat
            Ketika kita melatih kemampuan IQnya sejak kecil, maka ketika ia telah memasuki usia remaja ia akan mampu berfikir rasional, lebih dewasa dan memiliki kepedulian. Lebih dari itu dengan penjelassan-penjelasan Ontologis yang kita berikan, mereka tidak sekedar menjadi orang yang beerilmu tinggi tetapi juga memiliki keshalehan.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MATEMATIS
            Ayat yang kita jadikan leading sub bab ini berbicara secara luas tentang ritme alam semesta khususnya sistem tatasurya kita misi ayat ini jelas, agar orang-orang muslim mengerti bilangan tahun dan perhitungan. Sebagai sebuah sains, matematika secara inhern lebih cepat dimengerti oleh umat manusia, sejauh ia mampu beerfikir secara rasional.
            Pada usia prasekolah setiap kata atau simbol-simbol angka yang dinyatakan lebih merupakan peniruan semata. Hal ini karena kemampuan anak usia tersebut beluum ditunjang dengan peertumbuhan logika. Matematika merupakan representasi dari data, fakta, dan fenomena dari alam semesta, melalui simbol-simbol yang kita kenal dengan angka dan huruf. Karena itu penguasaan matematika secara memuaskan, merupakan tanda bagi kita untuk menguasai dan mendayagunakan alam semesta bagi kehidupan kita di dunia.
            Tanpa penguasaan matematika dengan baik, sebuah bangsa tidak akan mampu menyapa alam semesta ini secara proporsional dan wajar. Bangsa Yunani klasik dahulu, karena ketidaktahuannya mereka menyembah alam semesta seperti bintang, gunung, dan sebagainya. Bagitu juga Bangsa-bangsa lain yang hidup dalam kungkungan animisme dan dinanisme.
            Membelajarkan matematika tentu harus memiliki visi dan misi yang jelas, serta fungsi praktis dari pelajaran tersebut. Disinilah kita perlu kembali pada islam. Islam datang mengemban misi untuk menyelamatkan manusia dari kekufuran, baik karena ritual langsung maupun karena kebodohannya. Caranya seperti tercermin dalam surat Al-Alaq, ialah dengan menjelaskan dan memahami Sang pencipta, diri manusia dan alam. Betapa rumitnya perhitungan matematika saat itu ditunjukkan oleh Al qur’an;An-nisa’: ayat 4 tentang harta warisan yang telah diturunkan 14 abad yang lalu. Mungkinkah umat islam dapat menjalankan syari’atnya jika mereka tidak pandai matematika? Jawabannya tentu tidak mungkin. Artinya untuk menjadi muslim yang shaleh tentunya kita harus pandai matematika.
            Karena matematika pada dasarnya adalah sebuah alat, sebagaimana alat pada umumnya ia akan digunakan jika seseorang memiliki maksud-maksud tertentu dan tau juga kegunaan alat tersebut. Kemampuan matematis juga diperlukan untuk strategi berperang. Misalnya dapat disimak pada perang parit (Khandaq). Yaitu perang antara ummat islam melawan kaum kafir Qurays.
            Perlu kiranya anak-anak diajak untuk menyaksikan karya-karya teknologi yang akrab lingkungan, seperti bendungan air, teleskop atau ke sebuah bandara untuk menyaksikan pesawat terbang. Tanyakanlah mengapa air sebanyak itu tidak dapat dibendung dalam sebuah waduk dan mengapa pula waduk tersebut  tidak  jebol .
            Tentulah tidak mungkin mendapakan jawaban  yang tidak pasti dan tepat dari anak –anak kita ,apalagi jika pertanyaan ini  diajukan  ketika anak-anak berusia 5 ,6 atau 7 tahun . Tetapi yang sanat penting adalah bahwa pertanyan ini akan menyita perhatian mereka, juga imajinasi dan rasa ketakjupan dan pemikiranya .
            Hal penting yang perlu dilakukan untuk mengetaui minat anak  kita terhadap matematika , dideskripsikan Howard gardner ,antara lain sebagai berikut :
1.    Merasakan fungsi dan tujuan matematis dalam lingkunganya
2.    Mengenal konsep –konsep  yang bersikap kuantitatif atau angka- angka
3.    Mengunakan simbol untuk menujukan obyek
4.    Menujukan ketrampilan  pemecahan masalah secara matematis
5.     Menggunakan ketamprilan  estimating ,perhitungan alogaritma dan menggambarkan informasi visual dalam bentuk grafik
6.    Menyukai komputer  ,penelitian ,fisika, dan sebaigainya
7.    Menggunakan ketrampilan dalam karir seperti akuntansi teknologi komputer, buku ,mesin ,ilmu kimia dan sebagainya
            Tetapi yang penting adalah melibatkan secara intensif kemampuan intlektual mereka ,dan menantangnya untuk berfikir serta melibatkan “kedirian” meraka secara aktif dam dunia metematik itu sendiri. Caranya ialah dengan menggunakan kata kamu atau kalian,dan bukannya si A,B atau C dalam soal-aoal yang diajukan.
            Dewasa ini ada berbagai pendekatan untuk belajar matimatika secara efektif,misalnya Montazeri,Aritmatika dan sempoa.namun demikian,metode ini tentu banyak mengeluarkan banyak biaya,waktu dan energi. Untuk cerdas secara matematis,sebenarnya dasarnya adalah dorongan belajar itu sendiri,dan latihan efektif secara kontinu.dan hal itu bisa ditempuh dengan mengikuti kiat-kiat yang dianjurkan tersebut diatas.

MENINGKATKAN KEMAMPUANBERBAHASA
            Fritjhof Schunt, seorang filosof perenial yang sangat dihormati.mengatakan bahwa salah satu kecerdasan yang khas manusiawi adalah kemampuan manusia bercakap-cakap dalam bentuk bahasa. Melalui bahasa pula,manusia memungkinkan melongok masalalu,sejarah bangsa-bangsa dan peradaban.
            Tetapi bahasa juga merupakan cara yang paling baik untuk mengekspresikan diri,ide-ide perasaan sikap hidup,analisa penalaran dan juga kritik
            Islam sesungguhnya memiliki doktrin tentang penyebaran ajaran ini,yang mrnsyaratkan kemampuan para da’i dan ulamanyauntuk cerdas dancerdas dalam berbahasa.
            Selama kemampuan berbahasa,sebagai sarana untuk mengenaklan ide atau prestasi itu tidak dimiliki,maka selama itu pula ia tidak akan memiliki pengaruh yang berarti. Bahkan ketidakmampuan berbahasa ini,seringkali dieksploitasi dan diperas oleh pihak lain
            Apa artinya semua ini bagi kemampuan berbahasa anak-anak kita?jika kita mengandalkan sekolah untuk mengajarkan bahasa dan kemampuan berbahasa bagi anak-anak kita,jelas merupakan sebuah kekeliruan yang tidak tentu.kerena,meskipun anak kita telah menjadi anak terbaik dalam mendapatkan nilai pelajaran bahasa diklasnya,belum tentu mampu mengekspresikan ide-ide dan analisa secara baik. Hal itu berarti,sebagai orang tua kita harus mencari upaya-upaya sendiri,agar anak-anak kita mampu berbahasa dengan baik dan juga memiliki kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk bahasa,terutama bahasa tulis
            Anak-anak yang memiliki kecerdasan verbal linguistik indikasinya dapat diukur antara lain,keteraturan danaliran ucapan yang lancar serta struktur logika yang dibangunnya. Indikasi lainnya adalah senang membaca,menulis,diskusi,menyimak kata-kata secara seksama dan memiliki potensi lebih untuk menguasai bahasa asing.
Seorang figur yang dapat dikenal memiliki intelegensi verbal linguistik,dapat kita sebut misalnya Buya HAMKA,Asrul Sani,HB Yasin dan sebagainya.
Sebagaimana dikatakan di atas bahwa bahasa adalah yang paling efektif untuk mengekspresikan ide atau konsep ,sehingga dengan kemampuan berbahasa yang kita miliki,maka kita dapat menjelajah dunia dan mengenal bangsa-bangsa lain,peradaban masa lalu dan behkan membaca khasanah-khasanah klasik. Pentingnya tentang kemampuan berbahasa dapat diibaratkan sebagai “kunci” untuk menganbik kekayaan dan khasanah yang tersimpan dalam sebuah gudang. Tanpa kunci tersebut,kita tidak bisa membuka pintu gudang tidak bisa mengambil benda-bendanya.

Kita harus mengatakan kepada anak-anak kita bahwa untuk menguasai dinia diperlukan ilmu. Penjelasan-penjelasan ini,tentu disesuaikan dengan daya tangkap anak sehingga memberi dan membentuk “dorongan internal” yang efektif dan kuat baginya untuk belajar. Karenanya, anak-anak bisa mengerti manfaat yang sangat luas dari kemamapuan berbahasa meskipun dalam batas-batas imajinatif.
Untuk menyiasati secara khusus pembelajaran bahasa,apalagi bahasa asing seperti arab dan inggris,kita sebagai orang tua tidak bisa menguasai bahasa tersebut kita harus berani menyatakan penyeselan karena ketidakbisaan didepan anak-anak. kita juga perlu menyatakan bakwa akibat ketidakmampuan tersebut berbagai peluang akhirnya lepas begitu saja. Selanjutnya kita harus belajar bahasa asing karena hal ini akan membentuk lingkungan yang kondosif bagi anak-anak dan pada akhirnya anak-anak akan menemukan motifasi dan cara-cara baru untuk menguasainya.
Belajar bahasa akan efektif jika pada tahap awal kita mengabaikan tata bahasa (grammer). Sebaliknya harus berani melakukan ‘kesalahan’ dalam berbahasa. Belajar bahasa adalah mengalami “berbahasa” . untuk memperlancar percakapan tidak ada cara lain kecuali bercakap-cakap secara langsung.tetapi untuk mendalami bahasa lebih lanjut,bercakap-cakap tidaklah cukup.
            Belajar bahasa juga tidak cukup dengan cara “membaca”, mendengarkan percakapan terutama dari natif speaker,serta harus menulis (implak)dan menuangkan gagasan dalam bentuk tertulis. Cara-cara inilah yang memungkinkan kecepatan kemampuan berbahasa.