Memaknai IQ
Ketika
seorang anak dapat memecahkan soal matematika dalam waktu yang singkat, kita
menyebutnya sebagai anak yang cerdas Conny Semiawan mengikhtisarkan berbagai
pengertian dan devinisi tentang kecerdasan (inteligence) dari para ahli
tersebut kedalam 3 kriteria yakni :
1. Judgment
(penilaian)
2. Conprehension
(pengertian)
3. Reasoning (penalaran)
Kemudian
dikritisi lebih lanjut oleh A. Anastasi yang menggapnya membatasi ekspresi individu.
Sejumlah ahli psikologi pendidikan lain seperti, Charles Spearman, Thurstone,
Guilford dan Gardner, ahirnya berhasil mengembangankan konsep kecerdasan baru
yang dikenal dengan Multiplay Intelligence.
Multiplay Intelligence,
yakni teori faktor jamak dimana kecerdasan manusia dianggap memiliki tujuh
dimensi yang semi otonom masing-masing adalah :
a. Linguistik
b. Estetis-musik
c. Matematis-logis
d. Visual-spasial
e. Kinestetik
fisik
f. Sosial-interpersonal
g. Intra
personal
Disebut
dimensi yang semi otonom karena orang yang cerdas dalam satu dimensi.
Multiple
Intellegince ini relatif baru didunia
pendidikan Amerika Serikat , sesungguhnya terdapat kelemahan bahkan kesalahan
secara Intrinsik didalamnya. Pertama multiple intelligence tidak menunjukan
hirarkhi intellegensiitu sendiri. Jika hal seperti ini dipertahankan maka anak
didik akan kehilangan “ pusat kediriannya sendiri” dan tersubordinasi kedalam
bagian-bagian kediriannya. Kedua, jika diteksi dini diimplementasikan secara
dini hal itu mungkin bisa mengembangakan bakatnya pada suatu bidang tetapi juga
bisa memasung potensinya yang lain.
Untuk
mengetahui taraf kecerdasan para ahli psikologi pendidikan telah menyusun standart test intellegence yang kemudian
terkenal dengan intellegence quotient (taraf kecerdasan) yang lazim
disingkat IQ. Intinya jika seorang anak
mampu mengerjakan soal yang juga mampu dikerjakan anak sebaya atau setingkat,
maka dapat dikatakan IQ nya normal, dalam test Intellegence dinyatakan dengan
IQ nya 100. Rumus umum yang biasa dipakai adalah
IQ
merupakan kadar kemampuan seseorang atau anak dalam menyerap hal-hal yang
sifatnya fenomenal, fatwal, data, dan hitungan, itu semua tercermin dalam alam
semesta. IQ adalah cermin kemampuan seseorang dalam memahami dunia luar.
Mestinya makin tinggi IQ seseorang akan semakin dekatlah ia pada Allah S.W.T.
tetapi sayangnya tidak demikian, banyak orang yang IQ nya tinggi tetapi tidak
mengenal Tuhannya.
Disinilah
tugas kita sebagai orangtua harus mengubah pandangan yang menyesatkan tersebut,
caranya adalah dengan mengenalkan kembali hal-hal yang kita pahami itu,
sesungguhnya merupakan ciptaan yang diciptakan Allah bagi kita agar bersyukur.
Begitulah
semestinya sains yang dikembangkan untuk anak-anak kita tidak hanya cerdas
dalam memahami dan memanfaatkan sesuatu, tetapi juga memahami bahwa sesuatu itu
memiliki status Ontologisnya, yakni diharibaan Allah S.W.T. dengan demikian
ketika anak-anak berkembang IQ nya maka dengan sendirinya juga berkembang
keimanan dan ketakwaannya.
Banyak
sekali ayat Al-Quran yang menyeru atau memerintahkan manusia untuk memerhatikan
alam semesta. Bahkan dengan memperhatikan setetes airpun kita akan merasakan
ketekjubpan luar biasa. Jika kita mengikuti dan melaksanakan seruan ayat-ayat
Al-Qur’an tersebut, dengan sendirinya IQ kita akan cepat meningkat, karna dalam
memperhatikan alam semesta akan teerjadi proses dan akselerasi berfikir,
menginggat dan jugga perluasan wawasan. Proses itu terjadi karna dalam semesta
teerdpat hukum-hukum yang tetap yang dapat dipelajari, dinalar, dan ahirnya
diambil hikmah dan manfaat
Ketika
kita melatih kemampuan IQnya sejak kecil, maka ketika ia telah memasuki usia
remaja ia akan mampu berfikir rasional, lebih dewasa dan memiliki kepedulian.
Lebih dari itu dengan penjelassan-penjelasan Ontologis yang kita berikan,
mereka tidak sekedar menjadi orang yang beerilmu tinggi tetapi juga memiliki
keshalehan.
MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MATEMATIS
Ayat
yang kita jadikan leading sub bab ini berbicara secara luas tentang ritme alam
semesta khususnya sistem tatasurya kita misi ayat ini jelas, agar orang-orang
muslim mengerti bilangan tahun dan perhitungan. Sebagai sebuah sains,
matematika secara inhern lebih cepat dimengerti oleh umat manusia, sejauh ia
mampu beerfikir secara rasional.
Pada
usia prasekolah setiap kata atau simbol-simbol angka yang dinyatakan lebih
merupakan peniruan semata. Hal ini karena kemampuan anak usia tersebut beluum
ditunjang dengan peertumbuhan logika. Matematika merupakan representasi dari
data, fakta, dan fenomena dari alam semesta, melalui simbol-simbol yang kita
kenal dengan angka dan huruf. Karena itu penguasaan matematika secara
memuaskan, merupakan tanda bagi kita untuk menguasai dan mendayagunakan alam
semesta bagi kehidupan kita di dunia.
Tanpa
penguasaan matematika dengan baik, sebuah bangsa tidak akan mampu menyapa alam
semesta ini secara proporsional dan wajar. Bangsa Yunani klasik dahulu, karena
ketidaktahuannya mereka menyembah alam semesta seperti bintang, gunung, dan
sebagainya. Bagitu juga Bangsa-bangsa lain yang hidup dalam kungkungan animisme
dan dinanisme.
Membelajarkan
matematika tentu harus memiliki visi dan misi yang jelas, serta fungsi praktis
dari pelajaran tersebut. Disinilah kita perlu kembali pada islam. Islam datang
mengemban misi untuk menyelamatkan manusia dari kekufuran, baik karena ritual
langsung maupun karena kebodohannya. Caranya seperti tercermin dalam surat
Al-Alaq, ialah dengan menjelaskan dan memahami Sang pencipta, diri manusia dan
alam. Betapa rumitnya perhitungan matematika saat itu ditunjukkan oleh Al
qur’an;An-nisa’: ayat 4 tentang harta warisan yang telah diturunkan 14 abad
yang lalu. Mungkinkah umat islam dapat menjalankan syari’atnya jika mereka
tidak pandai matematika? Jawabannya tentu tidak mungkin. Artinya untuk menjadi
muslim yang shaleh tentunya kita harus pandai matematika.
Karena
matematika pada dasarnya adalah sebuah alat, sebagaimana alat pada umumnya ia
akan digunakan jika seseorang memiliki maksud-maksud tertentu dan tau juga
kegunaan alat tersebut. Kemampuan matematis juga diperlukan untuk strategi
berperang. Misalnya dapat disimak pada perang parit (Khandaq). Yaitu perang
antara ummat islam melawan kaum kafir Qurays.
Perlu
kiranya anak-anak diajak untuk menyaksikan karya-karya teknologi yang akrab
lingkungan, seperti bendungan air, teleskop atau ke sebuah bandara untuk
menyaksikan pesawat terbang. Tanyakanlah mengapa air sebanyak itu tidak dapat
dibendung dalam sebuah waduk dan mengapa pula waduk tersebut tidak
jebol .
Tentulah
tidak mungkin mendapakan jawaban yang
tidak pasti dan tepat dari anak –anak kita ,apalagi jika pertanyaan ini diajukan
ketika anak-anak berusia 5 ,6 atau 7 tahun . Tetapi yang sanat penting
adalah bahwa pertanyan ini akan menyita perhatian mereka, juga imajinasi dan
rasa ketakjupan dan pemikiranya .
Hal
penting yang perlu dilakukan untuk mengetaui minat anak kita terhadap matematika , dideskripsikan
Howard gardner ,antara lain sebagai berikut :
1. Merasakan
fungsi dan tujuan matematis dalam lingkunganya
2. Mengenal
konsep –konsep yang bersikap kuantitatif
atau angka- angka
3. Mengunakan
simbol untuk menujukan obyek
4. Menujukan
ketrampilan pemecahan masalah secara
matematis
5. Menggunakan ketamprilan estimating ,perhitungan alogaritma dan
menggambarkan informasi visual dalam bentuk grafik
6. Menyukai
komputer ,penelitian ,fisika, dan
sebaigainya
7. Menggunakan
ketrampilan dalam karir seperti akuntansi teknologi komputer, buku ,mesin ,ilmu
kimia dan sebagainya
Tetapi
yang penting adalah melibatkan secara intensif kemampuan intlektual mereka ,dan
menantangnya untuk berfikir serta melibatkan “kedirian” meraka secara aktif dam
dunia metematik itu sendiri. Caranya ialah dengan menggunakan kata kamu atau
kalian,dan bukannya si A,B atau C dalam soal-aoal yang diajukan.
Dewasa
ini ada berbagai pendekatan untuk belajar matimatika secara efektif,misalnya
Montazeri,Aritmatika dan sempoa.namun demikian,metode ini tentu banyak
mengeluarkan banyak biaya,waktu dan energi. Untuk cerdas secara
matematis,sebenarnya dasarnya adalah dorongan belajar itu sendiri,dan latihan
efektif secara kontinu.dan hal itu bisa ditempuh dengan mengikuti kiat-kiat
yang dianjurkan tersebut diatas.
MENINGKATKAN
KEMAMPUANBERBAHASA
Fritjhof
Schunt, seorang filosof perenial yang sangat dihormati.mengatakan bahwa salah
satu kecerdasan yang khas manusiawi adalah kemampuan manusia bercakap-cakap
dalam bentuk bahasa. Melalui bahasa pula,manusia memungkinkan melongok
masalalu,sejarah bangsa-bangsa dan peradaban.
Tetapi
bahasa juga merupakan cara yang paling baik untuk mengekspresikan diri,ide-ide
perasaan sikap hidup,analisa penalaran dan juga kritik
Islam
sesungguhnya memiliki doktrin tentang penyebaran ajaran ini,yang mrnsyaratkan
kemampuan para da’i dan ulamanyauntuk cerdas dancerdas dalam berbahasa.
Selama kemampuan berbahasa,sebagai
sarana untuk mengenaklan ide atau prestasi itu tidak dimiliki,maka selama itu
pula ia tidak akan memiliki pengaruh yang berarti. Bahkan ketidakmampuan
berbahasa ini,seringkali dieksploitasi dan diperas oleh pihak lain
Apa
artinya semua ini bagi kemampuan berbahasa anak-anak kita?jika kita
mengandalkan sekolah untuk mengajarkan bahasa dan kemampuan berbahasa bagi
anak-anak kita,jelas merupakan sebuah kekeliruan yang tidak
tentu.kerena,meskipun anak kita telah menjadi anak terbaik dalam mendapatkan
nilai pelajaran bahasa diklasnya,belum tentu mampu mengekspresikan ide-ide dan
analisa secara baik. Hal itu berarti,sebagai orang tua kita harus mencari upaya-upaya
sendiri,agar anak-anak kita mampu berbahasa dengan baik dan juga memiliki
kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk bahasa,terutama bahasa tulis
Anak-anak
yang memiliki kecerdasan verbal linguistik indikasinya dapat diukur antara
lain,keteraturan danaliran ucapan yang lancar serta struktur logika yang
dibangunnya. Indikasi lainnya adalah senang membaca,menulis,diskusi,menyimak
kata-kata secara seksama dan memiliki potensi lebih untuk menguasai bahasa
asing.
Seorang figur yang dapat dikenal memiliki
intelegensi verbal linguistik,dapat kita sebut misalnya Buya HAMKA,Asrul
Sani,HB Yasin dan sebagainya.
Sebagaimana dikatakan di atas bahwa bahasa
adalah yang paling efektif untuk mengekspresikan ide atau konsep ,sehingga
dengan kemampuan berbahasa yang kita miliki,maka kita dapat menjelajah dunia
dan mengenal bangsa-bangsa lain,peradaban masa lalu dan behkan membaca
khasanah-khasanah klasik. Pentingnya tentang kemampuan berbahasa dapat
diibaratkan sebagai “kunci” untuk menganbik kekayaan dan khasanah yang
tersimpan dalam sebuah gudang. Tanpa kunci tersebut,kita tidak bisa membuka
pintu gudang tidak bisa mengambil benda-bendanya.
Kita harus mengatakan kepada anak-anak kita
bahwa untuk menguasai dinia diperlukan ilmu. Penjelasan-penjelasan ini,tentu
disesuaikan dengan daya tangkap anak sehingga memberi dan membentuk “dorongan
internal” yang efektif dan kuat baginya untuk belajar. Karenanya, anak-anak
bisa mengerti manfaat yang sangat luas dari kemamapuan berbahasa meskipun dalam
batas-batas imajinatif.
Untuk menyiasati secara khusus pembelajaran
bahasa,apalagi bahasa asing seperti arab dan inggris,kita sebagai orang tua
tidak bisa menguasai bahasa tersebut kita harus berani menyatakan penyeselan
karena ketidakbisaan didepan anak-anak. kita juga perlu menyatakan bakwa akibat
ketidakmampuan tersebut berbagai peluang akhirnya lepas begitu saja.
Selanjutnya kita harus belajar bahasa asing karena hal ini akan membentuk
lingkungan yang kondosif bagi anak-anak dan pada akhirnya anak-anak akan
menemukan motifasi dan cara-cara baru untuk menguasainya.
Belajar bahasa akan efektif jika pada tahap
awal kita mengabaikan tata bahasa (grammer). Sebaliknya harus berani melakukan
‘kesalahan’ dalam berbahasa. Belajar bahasa adalah mengalami “berbahasa” .
untuk memperlancar percakapan tidak ada cara lain kecuali bercakap-cakap secara
langsung.tetapi untuk mendalami bahasa lebih lanjut,bercakap-cakap tidaklah
cukup.
Belajar
bahasa juga tidak cukup dengan cara “membaca”, mendengarkan percakapan terutama
dari natif speaker,serta harus menulis (implak)dan menuangkan gagasan dalam
bentuk tertulis. Cara-cara inilah yang memungkinkan kecepatan kemampuan
berbahasa.