Jumat, 18 Desember 2015

RELIGIUSITAS



BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Islam menyuruh umatnya untuk beragama (berislam) secara menyeluruh
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ  
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Setiap muslim, baik dalam berpikir,bersikap maupun bertindak, diperintahkan untuk berislam. Dalam melakukan aktivitas, sosial, ekonomi, politik atau aktivitas apapun, setipa muslim diperintahkan untuk melakuakannya dalam rangka beribadah pada Allah. Dimanapun dan dalam keadaan apapun . setiap muslim hendaknya berislam.
Esensi Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tinddakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa, pencipta yang Mutlak dan Transenden, penguasa segala yang ada. Tidak ada satupun perintah dalam Islam yang bisa dilepaskan dari Tauhid. Seluruh agama itu sendiri , kewajiban untuk menyembah Tuhan, untuk mematuhai perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan- Nya, akan hancur begitu Tauhid dilanggar. Dapat disimpulkan bahwa Tauhid adalah Intisari Islam dan suatu tindakan tak dapat disebut sebagai bernilai Islam tanpa dilandasi oleh kepercayaan kepada Allah.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.    Apa devinisi religiusitas ?
2.    Apa konsep dan teori religiusitas yang banyak digunakan dalam psikologi agama ?
3.    Factor apa yang mempengaruhi religiusitas ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.   PENGERTIAN RELIGIUSITAS
Ada beberapa istilah untuk menyebutkan agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), dan dien (Arab). Kata religion (Inggris) dan religie (Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin “religio” dari akar kata “relegare” yang berarti mengikat (Kahmad, 2002). Menurut Cicero (Ismail, 1997), relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan, yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Dalam bahasa Arab, agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al-mulk (kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan pemerintahan), al-tadzallul wa al-khudu (tunduk dan patuh), al-tha’at (taat), al-islam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan) (Kahmad, 2002).
Dari istilah agama inilah kemudian muncul apa yang dinamakan religiusitas. Meski berakar kata sama, namun dalam penggunaannya istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Kalau agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban; religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu di dalam hati (Mangunwijaya, 1982). Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).
Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.
Ancok dan suroso (2001) mendefinisikan religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sumber jiwa keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanya ketakutan-ketakutan akan ancaman dari lingkungan alam sekitar serta keyakinan manusia itu tentang segala keterbatasan dan kelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlak ini membuat manusia mencari kekuatan sakti dari sekitarnya yang dapat dijadikan sebagai kekuatan pelindung dalam kehidupannya dengan suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya yaitu Tuhan.
Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa religiusitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan kaiklasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga.

B.   KONSEP DAN TEORI RELIGIUSITAS
1.    Konsep Religiusitas Glock dan Stark
Konsep ini merupakan teori relligiusitas yang paling banyak digunakan dalam penelitian-penelitian psikologi agama. Menurut Glock dan Stark, ada lima aspek dari religiusitas yaitu :
a.    Religious belief (the Ideological Dimension) atau Dimensi keyakinan yaitu keyakinan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang dogmatic dalam agama. Misalnya dalam agama Islam, dimensi keyakinan ini tercakup dalam rukun iman.
b.    Religious Practice (the Ritual Dimension), yaitu tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya. Dalam agama Islam dimensi ini dikenal dengan rukun Islam.
c.    Religious Feeling (the Experiential Dimension), atau dimensi pengalaman dan penghayatan beragama, yaitu perasaa-perasaan atau pengalaman-pengalaman keagamaan yang pernah dialami dan dirsakan. Misal merasa dekat dengan tuhan, merasa takut berbuat dosa atau merasa do’a yang dikabulkan. Dalam Islam aspek ini sering dibicarakan dalam ilmu tasawuf yang dikenal dengan aspek Ihsan.
d.    Religious Knowledge (the Intelectual Dimension) yaitu dimensi pengetahuan yaitu seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya, terutama yang ada dalam kitab suci maupun yang lainnya. Dimensi ini biasa disebut juga dimensi Ilmu . didalam Islam dimensi ini termasuk dalam pengetahuan tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid dan ilmu tasawuf.
e.    Religious Effect (the Consequential Dimension), yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran agamanya didalam kehidupan sosial. Misalnya apakah dia mengunjungi tetangganya yang sakit, menolong orang yang kesulitan mendermakan hartanya dan lain sebagainya. Dimensi ini biasanya disebut juga dimensi amal.

2.    Konsep Religiusitas William James
Salah satu teori William James yang terkenal adalah teori munculnya emosi dari James Lange yang mengatakan bahwa seseorang mengalami emosi tertentu karena perilaku tertentu. Misalnya orang melihat harimau akan lari pontang-panting terlebih dahulu untuk menyelamatkan diri, baru muncul perasaan takut.
James membagi ada dua tipe keberagamaan yaitu the healhy minded dan the sick soul .(Jalaludin, 2007) kedua type ini pada dasarnya merupakan predisposisi kepribadian seseorang untuk melihat dunia dengan persepsi  mereka, sehingga akan berpengaruh terhadap cara pandang keberagamaan mereka.
a.    the healhy minded (jiwa yang sehat) secara kognitif kecenderungan melihat segala sesuatu disekitarnya sebagai sesuatu yang baik dan selalu optimis melihat masa depan. Secara afectif emosional orang yang memiliki keberagaman healthy mind senantiasa merasa gembira dan berbahagia. Dalam beragama mereka senantiasa menerapkan kebersyukuran. Dalam berhubungan denngan orang lain, orang dengan healthy mind cinderunng bersikap terbuka.baik yang seagama namun berbeda kelompok, maupun dengan orang yang berbeda agama.
b.    The sick soul (jiwa yang sakit). Secara kognitif mereka lebih mengembangkan sikap pesimis, yaitu selalu melihat sisi negative  dalam memandang segala sesuatu. Jika menghadapi suatu masalh ia akan memandang hal itu sebagai balasan dari dosanyayang telah dilaksanakan. Akibatnya secara emosional ia akan didomonasi oleh rasa sedih, merasa penuh dosa yang tidak terampuni. Mereka menggambarkan sosok Tuhan dari sisi yang member hukuman, yang keras balasannya, tapi tidak melihat Tuhan memiliki kasih sayang dan ampunan yang besar. Dari pandangan teologis mereka bersifat tertutup. Mereka melihat bahwa hanya pandangan keberagamaan dirinya dan kelompoknya yang paling benar dan tidak ada kebenaran sedikitpun adri kelompok lain. Akibatnya mereka lebih eksklusif dalam beragama dan tidak mau bergaul dengan orang yang memiliki faham yang berbeda.

3.    Konsep Orientasi Religius Gordon Allport
Allport dan Ross mengunakan teori motivasi untuk menggolongkan orientasi religiusitas menjadi dua macam, yaitu orientasi religious intrinsik  dan orientasi religious ekstrinsik. Kedua macam orientasi religious ini memiliki ciri yang bertolak belakang satu dan yang lain. Secara umum orang yang memiliki orientasi religious intrinsic akan berusaha “menghidupkan agama” sementara orientasi religious ekstrinsik cinderung “ menggunakan agama untuk hidup”  pada orientasi intrinsic agama adalah sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan seseorang,  sementara pada orientasi ekstrinsik, agama bersifat fungsional. Namun Allport sebenarnya tidak menganggap orientasi religious intrinsic-ekstrinsik sebagai suatu konsep yang independen antara satu dan lainnya, atau terpisah atau masing-masing berdiri sendiri. Orientasi religious intrinsic dan ekstrinsik adalah suatu gelaja yang berkelanjutan seseorang dapat bergerak dari kutub orientasi religious ekstrinsik menuju kutub orientasi religious intrinsic. Ini berarti bahwa keberagamaan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, namun dinamis dimana seseorang dapat bergeser dari satu kutub ke kutuh yang lain.
Ada beberapa aspek yang membedakan antara orang yang memiliki orientasi religious intrinsic dan orientasi religious ekstrinsik, antara lain :
a.    Aspek personal vs institusional
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi religious intrinsic menyakini secara mendalam dan personal nilai-nilai ajaran agama sebagai hal yang vital dan berusaha menghayati agama dalam kehidupan sehari-hari sacara pribadi. Mereka akan menganggap agama sebagai  bagian dari kehidupan internal individu  dan menjadikan agama sebagai tujuan hidup. Agama bagi mereka adalah suatu kebutuhan. Sebaliknya orang yang memiliki kecenderungan ekstrinsik lebih menekannkan agama dalam aspek formal dan institusional. Merekalebih menekannkan kaitannya dengan keanggotaan dalam kelompok sosial.
b.    Aspek Unselfish vs selfish
 Orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic cenderung tidak bersifat egoistic atau unselfish. Mereka berusaha mentransendensikan kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Artinya dalam menjalankan agama mereka tidak dimotivasi oleh kepentingan-kepentingan pribadi, ttetapi murni karena perintah agama. Sementara itu Orang yang memiliki kecenderungan orientasi  ekstrinsic cenderung egoistic atau selfish. Seluruh perilakunya berpusat pada dirinya sendiri yaitu untuk pemuasan diri sendiri dan untuk kepentingan pribadi.
c.    Terintegrasi vs Terpisah denngan keeluruhan kehidupan
Bagi orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic agama dapat terintegrasi secara utuh dengan seluruh aspek kehidupan. Mereka berusaha untuk menginternalisasikan ajaran agamanya secara penuh. Agama menjadi dasar yang mengintegrasikan dan menyatukan seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic memposisikan agama dibagian perifer dari kehidupannya.  Agama hanya bagian kecil dari aspek dalam kehidupan. Agama bagi mereka merupakan masalah yang ada diluar pribadinyadan tidak menyatu dengan kehidupannya.
d.    Penghayatan total vs Penghayatan dangkal
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic akan menerimua keyakinan agamanya secara sungguh-sungguh dan totalitas tanpa syarat. Dalam melaksanakan ritual agama orang yang berorientasi intrinsic akan menghayati sepenuh hati, sehingga mereka dapat merasakan nikmatnya dalam menjalankan ibadah agama, betapapun beratnya.sedangkan Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic hanya menghayati keyakinan agama secara dangkal dan tidak dihayati secara penuh. Dalam menjalankan ritual ibadahnya mereka tidak menghayati secara dalam. Mereka lebih meraskan ritual agama sebagai suatu kewajiban dan bukan kebutuhan pribadi.
e.    Pokok vs Instrumental
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic menjadikan agama sebagai tujuan akhir. Hidup mereka didedikasikan untuk perintah-perintah agama. Sebaliknya Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic menggunakan agama untuk kepentingan pribadi, status atau kedudukan sosial.
f.     Asosiasional vs Komunal
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic memiliki keterlibatan dalam agama yang sangat dalam untk mencari nilai-nilai transcendental yang tinggi. Mereka berafiliasi dalam dalam suatu kelompok beragamaan demi mencapai kehidupan yang penuh makna. Sementar itu Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic berafiliasi dengan suatu kelompok agama sebagai usaha untuk  memperluas jaringan sosial dan memperkuat status sosial mereka di masyarakat.
g.    Dinamis vs Statis
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi intrinsic selalu menjaga perkembangan iman mereka jangan sampai menurun, sehingga mereka akan terus-menerus memperdalam ajaran agama yang dianutnya, melalui keikutsertaan pada kelompok kajian dan membaca buku-buku agama.  Sebaliknya Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic tidak begitu memperhatikan perkembangan keimanannya. Mereka beragama hanya puas menjalankan ibadah yang diterima dari lingkungan dan orangtuanya saja. Tidak ada usaha untuk menginternalisasikan dan menambah pemahaman tentang ajaran agamanya.

4.    Komsep Religiusitas Lain
a.    Allen dan Spilka, religious dibagi menjadi dua, yakni
1)    Committed Religion
Dalam keberagamaan ini orang menggunakan perspektif abstrak dan filosofis, ide-ide dan pemahaman agamanya mempunyai makna yang jelas, dan mengkaitkan agama dengan kehidupan sehari-hari.
2)    Consensual Religion
Orang dengan tipe keberagamaan ini berusaha menyederhanakan agama secara kognitif saja dan pemahamannya tidak terdiferensasiasi dengan baik.
b.    Konsep Religiusitas Erich Fromm, Erich Fromm mengemukakan dua model keberagamaan, yaitu :
1)    Authoritarian Religion
Yaitu keberagamaan yang bersifat otoriter, yang memiliki ciri-ciri antara lain merasa selalu dikontrol oleh kekuasaan tertinggi selalu menekankan ketundukan dan kepatuhan terhadap ajaran agama, leih banyak merasa berdosa besar sebagai balasan dari ketidak patuhan.
2)    Humanistic Religion
Yaitu keberagamaan yang lebih bersifat humanistic, yang mempunyai ciri-ciri antara lain : berpusat pada manusia dan kekuatannya. Tipe keberagamaan ini memandang Tuhan sebagai symbol dari kekuatan manusia, dalam arti manusia harus memiliki sifat-sifat seperti Tuhan. Misal Tuhan memiliki sifat kasih sayang maka munusia harus memiliki sifat kasih sayang juga.
c.    Konsep Religiusitas Ricard C.H Lensky, membagi religiusitas menjadi dua tipe yakni :
1)    Doctrinal Orthodoxy
Yaitu religiusitas yang menekankan pada pamahaman dan pelaksanaan doktrin-doktrin agama yang tertulis.
2)    Devotionalisme
Yaitu keberagamaan yang menekankan pada pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan yang bersifat pribadi.
d.    Konsep Religiusitas Walter Houston Clark, mengemukakan ada tiga bentuk perilaku beragama, yaitu :
1)    Primary Religious Behavior
Yaitu perilaku agama yang didasari oleh pengalaman batin yang otentik atau pengalaman langsung tentnag Tuhan. Disini individu berusaha mengharmoniskan antara hidupnya dengan Tuhan
2)    Secondary Religius Behavior
Yaitu perilaku agama yang kemungkinan mempunyai sumber pengalaman primer tetapi menekankan rutinitas dan pelaksanaan kewajiban agamadengan penghayatan yang kurang utuh.
3)    Tertiary Religious Behavior
Yaitu perilaku agama yang sangat menekankan rutinitas dan ritualistic semata tanpa ada penghayatan secara pribadi. Disisni orang lebih banyak berorientasi pada otoritas orang lain atau lembaga agama.

C.   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RELIGIUSITAS
Religiusitas atau keagamaan seseorang ditentukan dari banyak hal, di antaranya: pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kita kecil atau pada masa kanak-kanak. Seorang remaja yang pada masa kecilnya mendapat pengalaman-pengalaman agama dari kedua orang tuanya, lingkungan sosial dan teman-teman yang taat menjalani perintah agama serta mendapat pendidikan agama baik di rumah maupun di sekolah, sangat berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama di masa kecilnya, maka pada dewasanya ia tidak akan merasakan betapa pentingnya agama dalam hidupnya. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di rumah mapun di sekolah dan masyarakat, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, dan takut melanggar larangan-larangan agama (Syahridlo, 2004).
Thoules (azra, 2000) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi religiusitas, yaitu:
a.    Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial) yang mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan, termasuk pendidikan orang tua, tradisi-tradisi sosial untuk menyesuaikan dengan berbagai pendapatan sikap yang disepakati oleh lingkungan.
b.    Berbagai pengalaman yang dialami oleh individu dalam membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman mengenai:
1)    Keindahan, keselarasan dan kebaikan didunia lain (faktor alamiah)
2)    Adanya konflik moral (faktor moral)
3)    Pengalaman emosional keagamaan (faktor afektif)
c.    Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan ancaman kematian.













BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Religiusitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan kaiklasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga.
Beberapa konsep religiusitas antara lain dikemukakan oleh Glock dan Stark, Wiliam James, Gordon Allport, Allen dan Spilka, Erich Fromm, Ricard C.H Lensky, dan Walter Houston Clark.
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi religiusitas ditentukan dari banyak hal antara lain dari pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kecil atau pada masa kanak-kanak.



















DAFTAR PUSTAKA

Subandi.Psikologi Agama dan Kesehatan Mental.Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2013.
Ancok Jamaludin dan Fuad Nashori Suroso. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 1995.