BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam menyuruh umatnya untuk beragama (berislam)
secara menyeluruh
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$2 wur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke
dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Setiap muslim, baik dalam berpikir,bersikap maupun
bertindak, diperintahkan untuk berislam. Dalam melakukan aktivitas, sosial,
ekonomi, politik atau aktivitas apapun, setipa muslim diperintahkan untuk
melakuakannya dalam rangka beribadah pada Allah. Dimanapun dan dalam keadaan
apapun . setiap muslim hendaknya berislam.
Esensi Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan,
tinddakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa, pencipta yang Mutlak dan
Transenden, penguasa segala yang ada. Tidak ada satupun perintah dalam Islam
yang bisa dilepaskan dari Tauhid. Seluruh agama itu sendiri , kewajiban untuk
menyembah Tuhan, untuk mematuhai perintah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan- Nya, akan hancur begitu Tauhid dilanggar. Dapat disimpulkan
bahwa Tauhid adalah Intisari Islam dan suatu tindakan tak dapat disebut sebagai
bernilai Islam tanpa dilandasi oleh kepercayaan kepada Allah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa devinisi religiusitas ?
2. Apa konsep dan teori religiusitas yang banyak
digunakan dalam psikologi agama ?
3. Factor apa yang mempengaruhi religiusitas ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN RELIGIUSITAS
Ada beberapa istilah untuk menyebutkan
agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), dan dien
(Arab). Kata religion (Inggris) dan religie (Belanda) adalah berasal dari
bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin “religio” dari akar
kata “relegare” yang berarti mengikat (Kahmad, 2002). Menurut Cicero (Ismail,
1997), relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan,
yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Dalam
bahasa Arab, agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din
sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al-mulk (kerajaan),
al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan),
al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan),
al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan
pemerintahan), al-tadzallul wa al-khudu (tunduk dan patuh), al-tha’at
(taat), al-islam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan)
(Kahmad, 2002).
Dari istilah agama inilah kemudian muncul
apa yang dinamakan religiusitas. Meski berakar kata sama, namun dalam
penggunaannya istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi
atau agama. Kalau agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan
aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban; religiusitas menunjuk pada aspek religi
yang telah dihayati oleh individu di dalam hati (Mangunwijaya, 1982).
Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan.
Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan,
seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas
agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari
seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama
Islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).
Hawari (1996) menyebutkan bahwa
religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang
diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab
suci.
Ancok dan suroso (2001) mendefinisikan
religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi
atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku
ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong
oleh kekuatan supranatural. Sumber jiwa keagamaan itu adalah rasa
ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanya ketakutan-ketakutan
akan ancaman dari lingkungan alam sekitar serta keyakinan manusia itu tentang
segala keterbatasan dan kelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlak ini
membuat manusia mencari kekuatan sakti dari sekitarnya yang dapat dijadikan
sebagai kekuatan pelindung dalam kehidupannya dengan suatu kekuasaan yang
berada di luar dirinya yaitu Tuhan.
Berdasarkan uraian di atas, bisa
disimpulkan bahwa religiusitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang
dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah
dan menjauhi larangan dengan kaiklasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga.
B. KONSEP DAN TEORI RELIGIUSITAS
1. Konsep Religiusitas Glock dan Stark
Konsep ini
merupakan teori relligiusitas yang paling banyak digunakan dalam
penelitian-penelitian psikologi agama. Menurut Glock dan Stark, ada lima aspek
dari religiusitas yaitu :
a. Religious belief (the Ideological Dimension) atau Dimensi
keyakinan yaitu keyakinan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang dogmatic
dalam agama. Misalnya dalam agama Islam, dimensi keyakinan ini tercakup dalam
rukun iman.
b. Religious Practice (the Ritual Dimension), yaitu tingkatan
sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya.
Dalam agama Islam dimensi ini dikenal dengan rukun Islam.
c. Religious Feeling (the Experiential Dimension), atau dimensi
pengalaman dan penghayatan beragama, yaitu perasaa-perasaan atau pengalaman-pengalaman
keagamaan yang pernah dialami dan dirsakan. Misal merasa dekat dengan tuhan,
merasa takut berbuat dosa atau merasa do’a yang dikabulkan. Dalam Islam aspek
ini sering dibicarakan dalam ilmu tasawuf yang dikenal dengan aspek Ihsan.
d. Religious Knowledge (the Intelectual Dimension) yaitu dimensi
pengetahuan yaitu seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran
agamanya, terutama yang ada dalam kitab suci maupun yang lainnya. Dimensi ini
biasa disebut juga dimensi Ilmu . didalam Islam dimensi ini termasuk dalam
pengetahuan tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid dan ilmu tasawuf.
e. Religious Effect (the Consequential Dimension), yaitu dimensi
yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran agamanya
didalam kehidupan sosial. Misalnya apakah dia mengunjungi tetangganya yang
sakit, menolong orang yang kesulitan mendermakan hartanya dan lain sebagainya.
Dimensi ini biasanya disebut juga dimensi amal.
2. Konsep Religiusitas William James
Salah satu teori
William James yang terkenal adalah teori munculnya emosi dari James Lange yang
mengatakan bahwa seseorang mengalami emosi tertentu karena perilaku tertentu.
Misalnya orang melihat harimau akan lari pontang-panting terlebih dahulu untuk
menyelamatkan diri, baru muncul perasaan takut.
James membagi ada
dua tipe keberagamaan yaitu the healhy minded dan the sick soul .(Jalaludin,
2007) kedua type ini pada dasarnya merupakan predisposisi kepribadian seseorang
untuk melihat dunia dengan persepsi
mereka, sehingga akan berpengaruh terhadap cara pandang keberagamaan
mereka.
a. the healhy minded (jiwa yang
sehat) secara kognitif kecenderungan melihat segala sesuatu disekitarnya
sebagai sesuatu yang baik dan selalu optimis melihat masa depan. Secara afectif
emosional orang yang memiliki keberagaman healthy mind senantiasa merasa
gembira dan berbahagia. Dalam beragama mereka senantiasa menerapkan kebersyukuran.
Dalam berhubungan denngan orang lain, orang dengan healthy mind cinderunng
bersikap terbuka.baik yang seagama namun berbeda kelompok, maupun dengan orang
yang berbeda agama.
b. The sick soul (jiwa yang
sakit). Secara kognitif mereka lebih mengembangkan sikap pesimis, yaitu selalu
melihat sisi negative dalam memandang
segala sesuatu. Jika menghadapi suatu masalh ia akan memandang hal itu sebagai
balasan dari dosanyayang telah dilaksanakan. Akibatnya secara emosional ia akan
didomonasi oleh rasa sedih, merasa penuh dosa yang tidak terampuni. Mereka
menggambarkan sosok Tuhan dari sisi yang member hukuman, yang keras balasannya,
tapi tidak melihat Tuhan memiliki kasih sayang dan ampunan yang besar. Dari
pandangan teologis mereka bersifat tertutup. Mereka melihat bahwa hanya
pandangan keberagamaan dirinya dan kelompoknya yang paling benar dan tidak ada
kebenaran sedikitpun adri kelompok lain. Akibatnya mereka lebih eksklusif dalam
beragama dan tidak mau bergaul dengan orang yang memiliki faham yang berbeda.
3. Konsep Orientasi Religius Gordon Allport
Allport dan Ross
mengunakan teori motivasi untuk menggolongkan orientasi religiusitas menjadi
dua macam, yaitu orientasi religious intrinsik
dan orientasi religious ekstrinsik. Kedua macam orientasi religious ini
memiliki ciri yang bertolak belakang satu dan yang lain. Secara umum orang yang
memiliki orientasi religious intrinsic akan berusaha “menghidupkan agama”
sementara orientasi religious ekstrinsik cinderung “ menggunakan agama untuk
hidup” pada orientasi intrinsic agama
adalah sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan seseorang, sementara pada orientasi ekstrinsik, agama
bersifat fungsional. Namun Allport sebenarnya tidak menganggap orientasi
religious intrinsic-ekstrinsik sebagai suatu konsep yang independen antara satu
dan lainnya, atau terpisah atau masing-masing berdiri sendiri. Orientasi
religious intrinsic dan ekstrinsik adalah suatu gelaja yang berkelanjutan
seseorang dapat bergerak dari kutub orientasi religious ekstrinsik menuju kutub
orientasi religious intrinsic. Ini berarti bahwa keberagamaan bukanlah sesuatu
yang bersifat statis, namun dinamis dimana seseorang dapat bergeser dari satu
kutub ke kutuh yang lain.
Ada beberapa
aspek yang membedakan antara orang yang memiliki orientasi religious intrinsic
dan orientasi religious ekstrinsik, antara lain :
a. Aspek personal vs institusional
Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi religious intrinsic menyakini secara mendalam dan
personal nilai-nilai ajaran agama sebagai hal yang vital dan berusaha
menghayati agama dalam kehidupan sehari-hari sacara pribadi. Mereka akan
menganggap agama sebagai bagian dari
kehidupan internal individu dan
menjadikan agama sebagai tujuan hidup. Agama bagi mereka adalah suatu
kebutuhan. Sebaliknya orang yang memiliki kecenderungan ekstrinsik lebih
menekannkan agama dalam aspek formal dan institusional. Merekalebih menekannkan
kaitannya dengan keanggotaan dalam kelompok sosial.
b. Aspek Unselfish vs selfish
Orang yang memiliki kecenderungan orientasi
intrinsic cenderung tidak bersifat egoistic atau unselfish. Mereka
berusaha mentransendensikan kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Artinya dalam
menjalankan agama mereka tidak dimotivasi oleh kepentingan-kepentingan pribadi,
ttetapi murni karena perintah agama. Sementara itu Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi ekstrinsic
cenderung egoistic atau selfish. Seluruh perilakunya berpusat pada
dirinya sendiri yaitu untuk pemuasan diri sendiri dan untuk kepentingan
pribadi.
c. Terintegrasi vs Terpisah denngan keeluruhan kehidupan
Bagi orang yang
memiliki kecenderungan orientasi intrinsic agama dapat terintegrasi secara utuh
dengan seluruh aspek kehidupan. Mereka berusaha untuk menginternalisasikan
ajaran agamanya secara penuh. Agama menjadi dasar yang mengintegrasikan dan
menyatukan seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya orang yang memiliki
kecenderungan orientasi ekstrinsic memposisikan agama dibagian perifer dari
kehidupannya. Agama hanya bagian kecil
dari aspek dalam kehidupan. Agama bagi mereka merupakan masalah yang ada diluar
pribadinyadan tidak menyatu dengan kehidupannya.
d. Penghayatan total vs Penghayatan dangkal
Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi intrinsic akan menerimua keyakinan agamanya secara
sungguh-sungguh dan totalitas tanpa syarat. Dalam melaksanakan ritual agama
orang yang berorientasi intrinsic akan menghayati sepenuh hati, sehingga mereka
dapat merasakan nikmatnya dalam menjalankan ibadah agama, betapapun
beratnya.sedangkan Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic hanya
menghayati keyakinan agama secara dangkal dan tidak dihayati secara penuh.
Dalam menjalankan ritual ibadahnya mereka tidak menghayati secara dalam. Mereka
lebih meraskan ritual agama sebagai suatu kewajiban dan bukan kebutuhan
pribadi.
e. Pokok vs Instrumental
Orang yang memiliki kecenderungan
orientasi intrinsic menjadikan agama sebagai tujuan akhir. Hidup mereka
didedikasikan untuk perintah-perintah agama. Sebaliknya Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi ekstrinsic menggunakan agama untuk kepentingan pribadi,
status atau kedudukan sosial.
f. Asosiasional vs Komunal
Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi intrinsic memiliki keterlibatan dalam agama yang sangat
dalam untk mencari nilai-nilai transcendental yang tinggi. Mereka berafiliasi
dalam dalam suatu kelompok beragamaan demi mencapai kehidupan yang penuh makna.
Sementar itu Orang yang memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic berafiliasi
dengan suatu kelompok agama sebagai usaha untuk
memperluas jaringan sosial dan memperkuat status sosial mereka di
masyarakat.
g. Dinamis vs Statis
Orang yang memiliki
kecenderungan orientasi intrinsic selalu menjaga perkembangan iman mereka
jangan sampai menurun, sehingga mereka akan terus-menerus memperdalam ajaran
agama yang dianutnya, melalui keikutsertaan pada kelompok kajian dan membaca
buku-buku agama. Sebaliknya Orang yang
memiliki kecenderungan orientasi ekstrinsic tidak begitu memperhatikan
perkembangan keimanannya. Mereka beragama hanya puas menjalankan ibadah yang
diterima dari lingkungan dan orangtuanya saja. Tidak ada usaha untuk
menginternalisasikan dan menambah pemahaman tentang ajaran agamanya.
4. Komsep Religiusitas Lain
a. Allen dan Spilka, religious dibagi menjadi dua, yakni
1) Committed Religion
Dalam keberagamaan ini
orang menggunakan perspektif abstrak dan filosofis, ide-ide dan pemahaman
agamanya mempunyai makna yang jelas, dan mengkaitkan agama dengan kehidupan
sehari-hari.
2) Consensual Religion
Orang dengan tipe
keberagamaan ini berusaha menyederhanakan agama secara kognitif saja dan
pemahamannya tidak terdiferensasiasi dengan baik.
b. Konsep Religiusitas Erich Fromm, Erich Fromm
mengemukakan dua model keberagamaan, yaitu :
1) Authoritarian Religion
Yaitu keberagamaan yang
bersifat otoriter, yang memiliki ciri-ciri antara lain merasa selalu dikontrol
oleh kekuasaan tertinggi selalu menekankan ketundukan dan kepatuhan terhadap
ajaran agama, leih banyak merasa berdosa besar sebagai balasan dari ketidak
patuhan.
2) Humanistic Religion
Yaitu keberagamaan yang
lebih bersifat humanistic, yang mempunyai ciri-ciri antara lain : berpusat pada
manusia dan kekuatannya. Tipe keberagamaan ini memandang Tuhan sebagai symbol
dari kekuatan manusia, dalam arti manusia harus memiliki sifat-sifat seperti
Tuhan. Misal Tuhan memiliki sifat kasih sayang maka munusia harus memiliki
sifat kasih sayang juga.
c. Konsep Religiusitas Ricard C.H Lensky, membagi
religiusitas menjadi dua tipe yakni :
1) Doctrinal Orthodoxy
Yaitu religiusitas yang
menekankan pada pamahaman dan pelaksanaan doktrin-doktrin agama yang tertulis.
2) Devotionalisme
Yaitu keberagamaan yang
menekankan pada pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan yang bersifat
pribadi.
d. Konsep Religiusitas Walter Houston Clark, mengemukakan
ada tiga bentuk perilaku beragama, yaitu :
1) Primary Religious Behavior
Yaitu perilaku agama
yang didasari oleh pengalaman batin yang otentik atau pengalaman langsung
tentnag Tuhan. Disini individu berusaha mengharmoniskan antara hidupnya dengan
Tuhan
2) Secondary Religius Behavior
Yaitu perilaku agama
yang kemungkinan mempunyai sumber pengalaman primer tetapi menekankan rutinitas
dan pelaksanaan kewajiban agamadengan penghayatan yang kurang utuh.
3) Tertiary Religious Behavior
Yaitu perilaku agama
yang sangat menekankan rutinitas dan ritualistic semata tanpa ada penghayatan
secara pribadi. Disisni orang lebih banyak berorientasi pada otoritas orang
lain atau lembaga agama.
C. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI RELIGIUSITAS
Religiusitas atau keagamaan
seseorang ditentukan dari banyak hal, di antaranya: pendidikan keluarga,
pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kita kecil atau pada
masa kanak-kanak. Seorang remaja yang pada masa kecilnya mendapat
pengalaman-pengalaman agama dari kedua orang
tuanya, lingkungan sosial dan teman-teman yang taat menjalani perintah agama serta
mendapat pendidikan agama baik di rumah maupun di sekolah, sangat berbeda
dengan anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama di masa kecilnya,
maka pada dewasanya ia tidak akan merasakan betapa pentingnya agama dalam
hidupnya. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di rumah mapun di
sekolah dan masyarakat, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam
aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, dan takut melanggar
larangan-larangan agama (Syahridlo, 2004).
Thoules (azra, 2000) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
religiusitas, yaitu:
a. Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan
berbagai tekanan sosial (faktor sosial) yang mencakup semua
pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan, termasuk pendidikan orang
tua, tradisi-tradisi sosial untuk menyesuaikan dengan berbagai pendapatan sikap
yang disepakati oleh lingkungan.
b. Berbagai pengalaman yang dialami oleh individu dalam membentuk sikap
keagamaan terutama pengalaman mengenai:
1) Keindahan, keselarasan dan kebaikan didunia lain (faktor alamiah)
2) Adanya konflik moral (faktor moral)
3) Pengalaman emosional keagamaan (faktor
afektif)
c. Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian
yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan
terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan ancaman kematian.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Religiusitas adalah kedalaman penghayatan
keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan
dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan kaiklasan hati dan dengan
seluruh jiwa dan raga.
Beberapa konsep religiusitas antara lain dikemukakan oleh Glock dan Stark,
Wiliam James, Gordon Allport, Allen dan Spilka, Erich Fromm, Ricard C.H Lensky,
dan Walter Houston Clark.
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi religiusitas ditentukan dari
banyak hal antara lain dari pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan
yang dilakukan pada waktu kecil atau pada masa kanak-kanak.
DAFTAR PUSTAKA
Subandi.Psikologi
Agama dan Kesehatan Mental.Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2013.
Ancok Jamaludin
dan Fuad Nashori Suroso. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:
1995.