Pengetahuan itu luar biasa luas, pernah sahabat mengqiyaskan bahwa
pengetahuan yang dimiliki oleh manusia itu diibaratkan jari yang diclupkan
di laut, jari yang basah itulah kira-kira besar pengetahuan yang kita (manusia)
miliki,
Hm…mungkin benar adanya atau bahkan pengetahuan ini (yang kita miliki)
kalau dirata-rata untuk seluruh umat manusia mungkin tak sama besarnya dengan
besar jari yang basah itu, mungkin..
Terlepas dari itu semua, tak ada hambatan untuk manusia berhenti belajar
, karna sungguh janji Allah nyata bagi mereka yang berilmu pengetahuan
"Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan" (al-Mujaadilah: 11),
Tentu ilmu itu dapat didapat dimana saja dan kapan saja bagi mereka yang
mau berfikir.
Ada sedikit tawa saat saya berpartisipasi dalam kajian jum’at dikampus,
beliau pak ustad (yang tidak dapat saya sebutkan namanya) mengambil tema yang luar
biasa menarik hati
“jangan bertuhan dengan TV”
Awalnya saya pikir “kenapa ?” bagus kan untuk pengetahuan dan juga
selingan bermanfaat untuk mengurangi jam gossip yang rata-rata disiarkan 3 kali
sehari disetiap jam makan baik pagi,siang, sore, hamper di setiap stasiun TV..
Memang benar pemikiran awalnya sepeti itu, namun yang perlu dikaji lagi
adalah isi dari apa yang disampaikan dari acara tersebut yang rata-rata
disakikan kaum ibu-ibu itu (termasuk ibu saya), yang ditakutkan adalah para penikmat acara di TV ini tidak mengkaji ulang apa yang disampaikan oleh
ustad-ustadzahnya,
Bayangkan bagaimana bisa “seseorang” dapat memutuskan “dosa” seseorang,menentukan
tempat dan kehinaannya, ini yang perlu kita waspadai,memberikan jawaban bahkan
tanpa dalil, menghakimi saudara seiman seagama. Apalagi yang bertanya langsung
percaya bahwa si “fulan” berdosa, dan tempatnya dineraka..betapa mengerikannya
jika nama yang disebut itu adalah nama kita,ditambah nama itu didengar oleh seluruh ibu-ibu se-indonesia raya dan
telah ditetapkan dengan jelas bahwa tempat nya kelak adalah di neraka…
Apakah tekhnologi yang kita fikir membawa penerangan malah menyesatkan,
jangan-jangan kita termasuk orang yang menerima mentah-mentah kata “TV” atau
kita terlalu seiya sekata dengan TV sehingga membuat kita enggan berfikir dan mengikutinya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar