Rabu, 08 Oktober 2014

JANGAN BERTUHAN DENGAN TV?



Pengetahuan itu luar biasa luas, pernah sahabat mengqiyaskan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh manusia itu diibaratkan jari yang diclupkan di laut, jari yang basah itulah kira-kira besar pengetahuan yang kita (manusia) miliki,
Hm…mungkin benar adanya atau bahkan pengetahuan ini (yang kita miliki) kalau dirata-rata untuk seluruh umat manusia mungkin tak sama besarnya dengan besar jari yang basah itu, mungkin..
Terlepas dari itu semua, tak ada hambatan untuk manusia berhenti belajar , karna sungguh janji Allah nyata bagi mereka yang berilmu pengetahuan
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (al-Mujaadilah: 11),
Tentu ilmu itu dapat didapat dimana saja dan kapan saja bagi mereka yang mau berfikir.
Ada sedikit tawa saat saya berpartisipasi dalam kajian jum’at dikampus, beliau pak ustad (yang tidak dapat saya sebutkan namanya) mengambil tema yang luar biasa menarik hati
“jangan bertuhan dengan TV”
Awalnya saya pikir “kenapa ?” bagus kan untuk pengetahuan dan juga selingan bermanfaat untuk mengurangi jam gossip yang rata-rata disiarkan 3 kali sehari disetiap jam makan baik pagi,siang, sore,  hamper di setiap stasiun TV..
Memang benar pemikiran awalnya sepeti itu, namun yang perlu dikaji lagi adalah isi dari apa yang disampaikan dari acara tersebut yang rata-rata disakikan kaum ibu-ibu itu (termasuk ibu saya), yang ditakutkan adalah  para penikmat acara di TV ini tidak  mengkaji ulang apa yang disampaikan oleh ustad-ustadzahnya,
Bayangkan bagaimana bisa “seseorang” dapat memutuskan “dosa” seseorang,menentukan tempat dan kehinaannya, ini yang perlu kita waspadai,memberikan jawaban bahkan tanpa dalil, menghakimi saudara seiman seagama. Apalagi yang bertanya langsung percaya bahwa si “fulan” berdosa, dan tempatnya dineraka..betapa mengerikannya jika nama yang disebut itu adalah nama kita,ditambah nama itu  didengar  oleh seluruh ibu-ibu se-indonesia raya dan telah ditetapkan dengan jelas bahwa tempat nya kelak  adalah di neraka…
Apakah tekhnologi yang kita fikir membawa penerangan malah menyesatkan, jangan-jangan kita termasuk orang yang menerima mentah-mentah kata “TV” atau kita terlalu seiya sekata dengan TV sehingga membuat kita enggan berfikir dan mengikutinya ?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar